BU NYAI

Bu nyai hannah bersama putrinya ning sheila hasina

Gus baha'

KH Ahmad Bahauddin Nursalim ulama nusantara

Gus Awis

Dr.KH. afiffudin Dimyathi Lc.MA Ulama nusantara

mbah moen

KH. Maemoen Zubair ulama Nusantara

Ummah Nafis

Ummah HJ. Laily Nafis

Jumat, 08 Desember 2023

RYADUS SALIHIN (TERJEMAHAN)

 Kitab Riyadhus Shalihin Karya Imam Nawawi Dan Terjemah

الحمْدُ للهِ الواحدِ القَهَّارِ
segala puji baji Allah yang maha esa juga maha mengalahkan

العَزيزِ الغَفَّارِ
maha perkasa lagi maha pengampun

مُكَوِّرِ اللَّيْلِ على النَّهَارِ
yang memasukkan malam atas siang

تَذْكِرَةً لأُولي القُلُوبِ والأَبصَارِ
sebagai pengigat bagi para pemilik hati dan mata bathin

وتَبْصرَةً لِذَوي الأَلبَابِ واَلاعتِبَارِ
pencerah bagi pemilik hati dan itibar

لَّذي أَيقَظَ مِنْ خَلْقهِ مَنِ اصطَفاهُ فَزَهَّدَهُمْ في هذهِ الدَّارِ
yang menunjukan orang yang ia pilih dari makhluknya, maka ia tunjukkan merika di rumah ini

وشَغَلهُمْ بمُراقبَتِهِ وَإِدَامَةِ الأَفكارِ
dan mensibukkan mereka dengan mengingat mereka dan melanggengkan berfikir

ومُلازَمَةِ الاتِّعَاظِ والادِّكَارِ
dan menetapi nasehat dan peringatan

ووَفَّقَهُمْ للدَّأْبِ في طاعَتِهِ
dan menunjukan mereka untuk menetapi dalam taat kepadanya

والتّأهُّبِ لِدَارِ القَرارِ
dan persiapan untuk rumak kekal

والْحَذَرِ مِمّا يُسْخِطُهُ ويُوجِبُ دَارَ البَوَارِ
dan menghindari perkara yang membuat ia marah dan menetapkan rumah kehinaan

والمُحافَظَةِ على ذلِكَ مَعَ تَغَايُرِ الأَحْوَالِ والأَطْوَارِ
dan menjaga hal tersebut serta berubahan keadaan dan tingkatan

أَحْمَدُهُ أَبلَغَ حمْدٍ وأَزكَاهُ
aku memujiNya dengan setinggi puji dan sebersih puji

وَأَشمَلَهُ وأَنْمَاهُ
dan paling mencakup dan paling berkembang

وأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ البَرُّ الكَرِيمُ
dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang bagus dan murah

الرؤُوفُ الرَّحيمُ
maha pengasih juga maha penyayang

وأشهَدُ أَنَّ سَيَّدَنا مُحمّدًا عَبدُهُ ورَسُولُهُ
dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hambaNya dan utusaNya

وحبِيبُهُ وخلِيلُهُ
dan kekasihnya dan sahabatnya

الهَادِي إلى صِرَاطٍ مُسْتَقيمٍ
petunjuk pada jalan yang lurus

والدَّاعِي إِلَى دِينٍ قَويمٍ
pengajak pada jalan yang tegak

صَلَوَاتُ اللهِ وسَلامُهُ عَليهِ
rahmat Allah dan salamnya semoga terlimpah kepadanya

وَعَلَى سَائِرِ النَّبيِّينَ
dan kepada seluruh nabi

وَآلِ كُلٍّ
dan keluarga semua para nabi

وسَائِرِ الصَّالِحينَ
dan seluruh orang-orang sholeh

أَما بعد، فقد قال اللهُ تعالى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

adapun setelah itu, maka sesungguhnya Allah SWT berfirman: dan tidak akku ciptakan jin dan manusian kecuali untuk beribadan , aku tidak mengharapkan dari mereka rizki, dan aku tidak mengharapkan mereka untuk memberi makan aku

وَهَذا تَصْريحٌ بِأَنَّهُمْ خُلِقوا لِلعِبَادَةِ
ini adalah penjelasan bahwa sesungguhnya mereka di ciptakan untuk ibadah

فَحَقَّ عَلَيْهِمُ الاعْتِنَاءُ بِمَا خُلِقُوا لَهُ وَالإعْرَاضُ عَنْ حُظُوظِ الدُّنْيَا بالزَّهَادَةِ
maka mereka seharusnya memperhatikan terhadap perkara yang mereka diciptakan karenanya, dan menghindar dari dunia dengan meninggalkan dunia

فَإِنَّهَا دَارُ نَفَادٍ لاَ مَحَلُّ إخْلاَدٍ
karena dunia adalah tempat sirna bukan tempat kekal

وَمَرْكَبُ عُبُورٍ لاَ مَنْزِلُ حُبُورٍ
tempat lewat bukan tempat kesenangan

ومَشْرَعُ انْفصَامٍ لاَ مَوْطِنُ دَوَامٍ
jalan putus bukan tempat kekal

فلِهذا كَانَ الأَيْقَاظُ مِنْ أَهْلِهَا هُمُ الْعُبَّادُ
karena ini maka penghuni yang sadar adalah mereka yang ahli ibadah

وَأعْقَلُ النَّاسِ فيهَا هُمُ الزُّهّادُ
manusia paling berakal adalah orang yang minggalkan dunia

قالَ اللهُ تعالى: إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأَنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآياتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah SWT berfirman: Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir

والآيات في هذا المعنى كثيرةٌ
dan ayat-ayat tentang makna ini itu banyak

Bab Ikhlas dan menhadirkan nait di setiap pekerjaan, pembicaraan dan keadaan, yang nampak dan yang samar - بَابُ الإخْلَاصِ وَإحْضَارِ النِّيَّةِ فِي جَمِيعِ الأعْمَالِ وَالأقْوَالِ وَالأحْوَالِ البَارِزَةِ وَالخَفِيَّة

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Allah Ta’ala berfirman: Dan tidaklah mereka itu di perintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri turus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar

وَقالَ تَعَالَى: لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Allah Ta’ala berfirman pula: Sama sekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah binatang korban itu, tetapi akan sampailah padaNya ketakwaan dan engkau sekalian

وَقالَ تَعَالَى: قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

Allah Ta’ala berfirman pula: Katakan lah sekalipun engkau semua sembunyikan apa-apa yang ada di dalam hatimu ataupun engkau sekalian tampakkan, pasti diketahui juga oleh Allah

وعن أمير المؤمِنين أبي حَفْصٍ عمرَ بنِ الخطابِ بنِ نُفَيْلِ بنِ عبدِ العُزّى بن رياحِ بنِ عبدِ اللهِ بن قُرْطِ بن رَزاحِ بنِ عدِي بنِ كعب بنِ لُؤَيِّ بنِ غالبٍ القُرشِيِّ العَدويِّ – رضي الله عنه – قالَ: سَمِعتُ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يقُولُ

Dari Amirul mu’minin Abu Hafs yaitu Umar ibn Al-khaththab bin Nufail ibn Abdul

‘Uzza ibn Riah ibn Abdullah ibn Qurth ibn Razah ibn ‘Adi ibn Ka’ab ibn Luai ibn Ghalib alQurasyi al-‘Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

إنّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيّاتِ 

semua amal itu tergantung niatnya

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِىءٍ مَا نَوَى

dan milik setiap orang apa yang ia niati

فَمَنْ كَانَتْ هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله

barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya, maka hijarahnya kepada Allah dan rasulnya

ومن كانت هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصيبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكَحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

dan barang siapa hijrahnya untuk dunia yang akan ia peroleh atau wanita yang akan ia nikahi, maka hijrahnya kepada yang ia hirjahi

مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ

disepakati atas kesahihan hadis

رَوَاهُ إمَامَا الْمُحَدّثِينَ

diriwayatkan dua imam pakar hadait

أبُو عَبْدِ الله مُحَمَّدُ بْنُ إسْمَاعيلَ بْن إبراهِيمَ بْن المُغيرَةِ بنِ بَرْدِزْبهْ الجُعْفِيُّ البُخَارِيُّ

Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Al Mughirah ibn Bardizbah Alju’fi Albukhari

وَأَبُو الحُسَيْنِ مُسْلمُ بْنُ الحَجَّاجِ بْنِ مُسْلمٍ الْقُشَيريُّ النَّيْسَابُورِيُّ

 dan Abul husain Muslim ibn Al Hajjaj ibn Muslim Al Qusyairi An Naisaburi, 

رضي اللهُ عنهما

semoga Allah meridhoi keduanya

فِي صحيحيهما اللَّذَيْنِ هما أَصَحُّ الكُتبِ المصنفةِ

 dalam kedua kitab masing masing yang keduanya itu adalah seshahih-shahihnya kitab Hadis yang dikarang

وعن أمِّ المؤمِنينَ أمِّ عبدِ اللهِ عائشةَ رضي الله عنها، قالت: قالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم

Dari ibu orang  orang beriman yaitu ibunya abdulllah yaitu Aisyah RA. ia berkata Rasulullah bersabda:

يغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وآخِرِهِمْ

sekolompok pasukan memerangi ka’bah, lalu ketika merak di tanah lapang, awal dan akhir mereka ditenggelamkan

قَالَتْ: قلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بأوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهمْ أسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟

‘Aisyah berkata, Aku berkata: wahai Rasulullah kenapa awal dan akhir meraka di tenggelam kan , padahal di mereka ada pasar-pasar mereka dan orang yang tidak termasuk mereka

قَالَ: يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيّاتِهمْ

Rasulullah bersabda: Awal dan akhir mereka di tenggelam kan, lalu mereka di bangkitkan berdasarkan niat mereka

مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. هذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ

Hadis disepakati, ini adalah lafadz bukhari

وعن عائِشةَ رضيَ اللهُ عنها، قَالَتْ: قَالَ النبي صلى الله عليه وسلم

dari Aisyah Ra ia berkata, rasulullah SAW bersabda:

لا هِجْرَةَ بَعْدَ الفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ

tiada hijrah setelah penaklukan kota Mekah , tetapi jihad dan niat

وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فانْفِرُوا

dan jika kalian di suruh berperang, maka berperang lah

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

hadis disepakati

وَمَعناهُ: لا هِجْرَةَ مِنْ مَكّةَ لأَنَّهَا صَارَتْ دَارَ إسلاَمٍ

dan makna nya hadist: tiada hijrah dari makkah, karena makkah menjadi negara islam

وعن أبي عبدِ اللهِ جابر بن عبدِ اللهِ الأنصاريِّ رَضي اللهُ عنهما، قَالَ

Dari Abi Abdillah Jabir ibn Abdillah al Anshori RA. ia berkata

كُنَّا مَعَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – في غَزَاةٍ، فَقالَ

pernah kita bersama Nabi SAW di suatu peperangan lalu beliau bersabda

إِنَّ بالمدِينَةِ لَرِجَالًا ما سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إلاَّ كَانُوا مَعَكمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ

sesungguhnya di madinah ada orang-orang yang kalian tidak menjalani perjalanan, dan tidak melewati lembah, kecuali meraka bersama kalian, sakit menahan mereka

وَفي روَايَة: إلاَّ شَرَكُوكُمْ في الأجْرِ

dan di suatu riwayat: kecuali mereka menyamai kalian dalam pahala

رواهُ مسلمٌ

hadits riwayat muslim

ورواهُ البخاريُّ عن أنسٍ – رضي الله عنه – قَالَ

dan Bukhari meriwayatkan dari Anas RA. ia berkata:

رَجَعْنَا مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ مَعَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – فقال

kita kembali dari perang tabuk bersama nabi SAW, lalu beliau bersabda

إنَّ أقْوامًا خَلْفَنَا بالْمَدِينَةِ مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلاَ وَاديًا، إلاّ وَهُمْ مَعَنَا؛ حَبَسَهُمُ العُذْرُ

sesungguhnya kaum-kaum yang kita tinggal di Madinah, kita tidak melewati kampung dan lembah kecuali mereka bersama kita, sebuah halangan menahan meraka

وعن أبي يَزيدَ مَعْنِ بنِ يَزيدَ بنِ الأخنسِ رضي الله عنهم وهو وأبوه وَجَدُّه صحابيُّون، قَالَ

dari Abi Yazid yaitu ma’n ibn Yazid ibn Akhnas Ra. -dia dan bapaknya dan kakeknya adalah sahabat- ia berkata:

كَانَ أبي يَزيدُ أخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا، فَوَضعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ

pernah ayah saya yaitu yazid mengeluarkan beberapa dinar yang ia shodaqohkan di seorang di masjid

فَجِئْتُ فأَخذْتُها فَأَتَيْتُهُ بِهَا

lalu aku datang, lalu aku mengambil nidar itu, lalu aku bawa

فقالَ: واللهِ، مَا إيَّاكَ أرَدْتُ

lalu ayahku berkata: demi Allah aku tidak mengharapkan kamu

فَخَاصَمْتُهُ إِلى رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – فقَالَ

maka aku laporkan ia kepada Rasulullah SAW , lalu beliau bersabda:

لكَ مَا نَوَيْتَ يَا يزيدُ، ولَكَ ما أخَذْتَ يَا مَعْنُ

bagimu apa yang kamu niatkan wahai yazid, dan bagimu apa yang kamu ambil wahai ma’n

رواهُ البخاريُّ

hadits riwayat bukhari

وعن أبي إسحاقَ سَعدِ بنِ أبي وَقَّاصٍ مالِكِ بنِ أُهَيْب بنِ عبدِ منافِ بنِ زُهرَةَ بنِ كلابِ بنِ مُرَّةَ بنِ كعبِ بنِ لُؤيٍّ القُرشِيِّ الزُّهريِّ – رضي الله عنه – أَحَدِ العَشَرَةِ المشهودِ لهم بالجنةِ – رضي الله عنهم – قَالَ

dari Abi ishaq sa’d ibn abi Waqqos malik ibn Uhaib ibn Abdi manab ibn Zuhrah ibn Kilaf Ibn Murrah Ibn ka’b Ibn Luay al qorasya az zurri RA. slah sorang yang di janjikan masuk surga

جاءنِي رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بي

Rasulullah mendatangiku untuk menjengukku saat haji wada karena sakit yang kritis

 فقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إنِّي قَدْ بَلَغَ بي مِنَ الوَجَعِ مَا تَرَى، وَأَنَا ذُو مالٍ وَلا يَرِثُني إلا ابْنَةٌ لي  أفأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟

lalu aku berkata: wahai Rasulullah, saya terkena penyakit seperti apa yang anda lihat, dan saya memiliki harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali anak perempuanku, apakah aku mensedekahkan dua pertiga hartaku

 قَالَ: «لا»

beliau berkata: jangan

 قُلْتُ: فالشَّطْرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ 

aku berkata: setengah wahai Rasulullah

فقَالَ: «لا»

beliau berkata: jangan

 قُلْتُ: فالثُّلُثُ يَا رَسُولَ اللهِ؟

aku berkata: sepertiga wahai Rasulullah

 قَالَ: الثُّلُثُ والثُّلُثُ كَثيرٌ – أَوْ كبيرٌ – إنَّكَ إنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أغنِيَاءَ خيرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يتكفَّفُونَ النَّاسَ

beliau berkata: sepertiga, dan sepertiga itu banyak -atau besar- sesunnguhnya engkau meniggalkan ahli warismu kaya itu lebih baik dari pada engkau meniggalkan mereka dalam keadaan miskin, seraya meminta minta manusia

وَإنَّكَ لَنْ تُنفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغي بِهَا وَجهَ اللهِ إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ في فِيِّ امْرَأَتِكَ

dan sesungguhnya engkau tidak menafkahkan nafakai yang engkau mencari ridha Allah kecuali kamu di beri pahala atas hal tersebut, sampai apa yang engkau jadikan di mulut istrimu

 قَالَ: فَقُلتُ: يَا رسولَ اللهِ، أُخلَّفُ بعدَ أصْحَابي؟

ia berkata: aku berkata: wahai Rasulullah apakah aku ditinggal, setelah teman-temanku

 قَالَ: إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعملَ عَمَلًا تَبتَغي بِهِ وَجْهَ اللهِ إلاَّ ازْدَدتَ بِهِ دَرَجةً ورِفعَةً

Rasulullah bersabda: sesungguhnya engkau tidak di tinggal, lalu engkau melakukan suatu amal, yang dengan amal itu engkau mencari ridho Allah, kecuali engkau tambah derajat dan keluhuran

 وَلَعلَّكَ أَنْ تُخَلَّفَ حَتّى يَنتَفِعَ بِكَ أقْوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخرونَ

dan barangkali engkau di tinggal, sampai suatu kaum mendapat manfaat darimu, dan yang lain mendapat bahaya darimu

 اللَّهُمَّ أَمْضِ لأصْحَابي هِجْرَتَهُمْ ولاَ تَرُدَّهُمْ عَلَى أعقَابهمْ، لكنِ البَائِسُ سَعدُ بْنُ خَوْلَةَ

Ya Allah , lestarikikan untuk sahabtkau hijrah mereka, dan jangan kembalikan mereka pada asal mereka, Tetapi yang sedih adalah saad bin khoulah

 يَرْثي لَهُ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ ماتَ بمَكَّة. مُتَّفَقٌ عليهِ.

Rasulullah memberi tahu ia, bahwa ia mati di makkah. muttafaq alaih

وعنْ أبي هريرةَ عبدِ الرحمانِ بنِ صخرٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم: إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ، ولا إِلى صُوَرِكمْ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم. رواه مسلم

dan dari abi hurairah yaitu abdurrahman ibn sokhr ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya Allah tidak melihat pada tubuh kalian, dan tidak pada bentuk kalian, tetapi melihat pada hati kalian dan amal kalian. 

وعن أبي موسى عبدِ اللهِ بنِ قيسٍ الأشعريِّ – رضي الله عنه – قَالَ

dari abi musa abdillah ibn qois al Asyari ra. ia berkata

 سُئِلَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الرَّجُلِ يُقاتلُ شَجَاعَةً، ويُقَاتِلُ حَمِيَّةً، ويُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذلِكَ في سبيلِ الله؟ 

Rasulullah pernah ditanya tentang seorang yang berperang karena berani, dan berperang karena emosi, dan berperang karena riya, mana yang di jalan Allah

فقال رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم: مَنْ قَاتَلَ لِتَكونَ كَلِمَةُ اللهِ هي العُلْيَا، فَهوَ في سبيلِ اللهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Rasulullah saw. barang siapa yang berperang karena kalimat allah adalah luhur maka ia di jalan Allah. muttafaq alaih

وعن أبي بَكرَةَ نُفيع بنِ الحارثِ الثقفيِّ – رضي الله عنه: أَنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ:

dari abi bakrah nufain ibn haris assaqofi ra. bahwa nabi saw bersabda:

 إِذَا التَقَى المُسلِمَان بسَيْفَيهِمَا فالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ في النّارِ. jika dua orang muslim bertemu dengan kedua padang mereka, mka yang membunuh dan yang di bunuh di neraka. 

قُلتُ: يا رَسُولَ اللهِ هذا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المقْتُولِ؟ 

saya berkata: wahai Rasulullah, ini orang yang membunuh, lalu apa urusan orang yang dibunuh

قَالَ: إنَّهُ كَانَ حَريصًا عَلَى قتلِ صَاحِبهِ. مُتَّفَقٌ عليهِ.

beliau menjawab: karena ia ingin membunuh temanya

وعن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم

dari abi hurairah ra. ia berkata rasulullah bersabda

 صَلاةُ الرَّجلِ في جمَاعَةٍ تَزيدُ عَلَى صَلاتهِ في سُوقِهِ وبيتهِ بضْعًا وعِشرِينَ دَرَجَةً

solat seorang laki-laki dengan jamaah itu tambah atas sholatnya di pasarnya dan rumahnya, lebih dua puluh derajat

 وَذَلِكَ أنَّ أَحدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضوءَ، ثُمَّ أَتَى المَسْجِدَ لا يُرِيدُ إلاَّ الصَّلاةَ، لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَلاةُ: لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بها خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ المَسْجِدَ،

hal tersebut, karena sesungguhya salah satu dari mereka jika berwudlu, lalu memperbaiki wudlu, lalu mendatangi masjid, tidak mengharap kan kecuali sholat, tidak membangunkanya kecuali sholat, maka ia tidak melangkah kan suatu langkah kecuali di angkat baginya suatu derajat, dan di lebur darinya suatu kesalahan sampai ia masuk masjid

 فإِذا دَخَلَ المَسْجِدَ كَانَ في الصَّلاةِ مَا كَانَتِ الصَّلاةُ هِي تَحْبِسُهُ

ketika ia masuk masjid, maka ia dalam sholat selagi sholat adalah yang menahanya

 وَالمَلائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ في مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ

dan malaikat memintakan ampunan 

 يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيهِ

mereka mengatakan, wahai Allah , sayangi mereka, wahai Allah, ampuni mereka, wahai allah teima taubat mereka

 مَا لَم يُؤْذِ فيه، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ. مُتَّفَقٌ عليه، وهذا لفظ مسلم.

selama ia tidak menyakiti di situ, selagi tidak hadas di situ. muttafaq alaih

وقوله – صلى الله عليه وسلم: «يَنْهَزُهُ» هُوَ بِفَتْحِ اليَاءِ والْهَاءِ وبالزَّايِ: أَيْ يُخْرِجُهُ ويُنْهضُهُ.

dan ucapan Rasulullah saw yanhazuhu itu dengan fathah ya dan ha, dan dengan za, maksudnya mengelurakanya dan membangkitkanya

وعن أبي العبَّاسِ عبدِ اللهِ بنِ عباسِ بنِ عبد المطلب رضِيَ اللهُ عنهما، عن رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – فيما يروي عن ربهِ، تباركَ وتعالى، قَالَ

dan dari abi Abas, Abdullah ibn Abas ibn abdul mutholib ra dari rasulullah saw , tentang yang beliau riwayatkan dari tuhanya, Ia berkata

إنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذلِكَ

sesungguhnya Allah itu mewajibkan kebaikan dan kejelekan, lalu menrengkan hal tersebut

 فَمَنْ هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَها اللهُ تَبَارَكَ وتَعَالى عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً

barang siapa mengiginkan kebaikan lalu belum mengamalkannya maka Allah mencatatnya kebaikan yang sempurna

 وَإنْ هَمَّ بهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشْرَ حَسَناتٍ إِلى سَبْعمئةِ ضِعْفٍ إِلى أَضعَافٍ كَثيرةٍ

dan jika mengiginkan kebaikan dan melakukanya maka allah mencatatnya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus gandaan, sampai gandaan yang banyak

 وإنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ تَعَالَى عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلةً

dan jika mengiginkan kejelekan dan tidak mengamaklanya, maka allah mencatatnya kebaikan yang sempurna

 وَإنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً». مُتَّفَقٌ عليهِ

dan jika ia mengiginkan kejelekan dan melakukanya maka allah akan mencatatanya satu kejelekan. muttafaq alaih

وعن أبي عبد الرحمان عبدِ الله بنِ عمرَ بن الخطابِ رضيَ اللهُ عنهما، قَالَ: سمعتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: 

dan dari abi abdurrahman abdullah ibn umar ibn khattab ra ia berkata: saya mendengar rasulullah saw bersabda

انطَلَقَ ثَلاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ المَبيتُ إِلى غَارٍ فَدَخلُوهُ

tiga orang dari kaum sebelum kalian berpergian, sampai mereka terpaksa menginap dalam gua, maka mereka memasukinya

 فانْحَدرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الغَارَ

lalu jatuh sebuah batu dari gunung, lalu menutup gunung

 فَقالُوا: إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللهَ بصَالِحِ أعْمَالِكُمْ

mereka berkata: sesungguhnya tidak ada yang menyelamat kan kalian dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan kebaikan amal kalian

قَالَ رجلٌ مِنْهُمْ: اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوانِ شَيْخَانِ كبيرانِ، وكُنْتُ لا أغْبِقُ قَبْلَهُمَا أهْلًا ولاَ مالًا

seorang dari mereka berkata: ya Allah, saya memiliki dua orang tua yang tua, dan saya tidak memberi minum sebelemum keduanya keluarga 

 فَنَأَى بِي طَلَب الشَّجَرِ يَوْمًا فلم أَرِحْ عَلَيْهمَا حَتَّى نَامَا

lalu saya mencari kayu di suatu hari, dan aku belum melayani keduanya sampai keduanya tertidur

 فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُما نَائِمَينِ

lalu aku perah minuman mereka, lalu aku menemukan keduanya tertidur

 فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا وَأَنْ أغْبِقَ قَبْلَهُمَا أهْلًا أو مالًا

lalu aku tidak suka untuk membangun kan keduanya, dan memberi minum sebelum keduanya , baik keluarga atau harta

 فَلَبَثْتُ – والْقَدَحُ عَلَى يَدِي – أنتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما حَتَّى بَرِقَ الفَجْرُ والصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَميَّ

lalu aku diam – dan tempat susu di tanganku – saya menanti bangun mereka sampai terbit fajar, dan anak anak menangis bawah kakiku

 فاسْتَيْقَظَا فَشَرِبا غَبُوقَهُما

lalu keduanya bangun dan meminum susu mereka

 اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاء وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هذِهِ الصَّخْرَةِ

ya Allah jika aku melakukan hal tersebut karena dzat engkau, maka lepaskan kita dari batu ini

 فانْفَرَجَتْ شَيْئًا لا يَسْتَطيعُونَ الخُروجَ مِنْهُ

maka batu tersebut retak sedikit, hanya saja mereka tidak dapat keluar dari situ

قَالَ الآخر: اللَّهُمَّ إنَّهُ كانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمّ، كَانَتْ أَحَبَّ النّاسِ إليَّ 

dan yang lain berkata: ya Allah, sesungguhnya saya memiliki keponakan, ia adalah orang yang paling aku cintai

 وفي رواية: كُنْتُ أُحِبُّها كأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النساءَ 

dan dalam suatu riwayat: aku mencintainya layak sangat cintanya seorang laki-laki kepada wanita

 فأَرَدْتُهَا عَلَى نَفْسِهَا فامْتَنَعَتْ منِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بها سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ

lalu aku menginginkan dirinya, sampai aku menanti beberapa tahun

 فَجَاءتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمئةَ دينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْني وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفعَلَتْ

lalu ia datang kepadaku , dan aku beri seratus dua puluh dinar, agar dia mau berduaan bersamaku, lalu ia mau melakukan

حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا – وفي رواية: فَلَمَّا قَعَدْتُ بَينَ رِجْلَيْهَا، قالتْ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَفُضَّ الخَاتَمَ إلاّ بِحَقِّهِ

hingga ketika ia berkuasa  dan dalam suatu riwayat ketika ia duduk di antara kedua kaki wanita tersebut , wanita itu berkata: bertakwalah kepada Allah, dan jangan merobek cincin kecuali dengan haknya

 فَانصَرَفْتُ عَنْهَا وَهيَ أَحَبُّ النَّاسِ إليَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أعْطَيتُها

maka aku meninggalkannya, padahal ia orang yang paling aku cintai, dan aku meninggalkan cincin yang aku kasih

 اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابْتِغاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فيهِ

ya Allah , jika aku melakukan hal tersebut karena mencari ridlo engkau, maka berilah solusi dari yang kami alami

 فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ مِنْهَا

maka batu tersebut retak sedikit, hanya saja mereka tidak dapat keluar dari situ

وَقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ وأَعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُل واحدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهبَ

yang ketika berkata: ya Allah, saya pemperjakan buruh, dan aku kasih mereka upah mereka, kecuali satu orang, ia meniggalkan haknya

 فَثمَّرْتُ أجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنهُ الأمْوَالُ

lalu aku kelola upahnya, sampai menjadi banyak

 فَجَاءنِي بَعدَ حِينٍ، فَقالَ: يَا عبدَ اللهِ، أَدِّ إِلَيَّ أجْرِي

selang beberapa lama, ia mendatangiku dan berkata: wahai abdulllah kasihkan upahku

 فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أجْرِكَ: مِنَ الإبلِ وَالبَقَرِ والْغَنَمِ والرَّقيقِ

aku berkata: setiap yang kamu lihat adalah upahmu, onta, sapi, kambing, dan hamba sahaya

 فقالَ: يَا عبدَ اللهِ، لاَ تَسْتَهْزِىءْ بي

ia berkata: wahai abdullah, jangan menertawakan aku

 فَقُلْتُ: لاَ أسْتَهْزِئ بِكَ

aku berkata: aku tidak menertawakanmu

 فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتَاقَهُ فَلَمْ يتْرُكْ مِنهُ شَيئًا

maka ia mengambil semuanya, dan tidak menyisakan sama sekali

 الَّلهُمَّ إنْ كُنتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحنُ فِيهِ

ya Allah , jika aku melakukan hal tersebut karena mencari ridho engkau, maka berilah solusi dari yang kami alami

 فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ. مُتَّفَقٌ عليهِ

maka retaklah batu tersebut, lalu mereka berjalan keluar. muttafaq alaih

 

FATHUL QORIB (TERJEMAHAN)

 



Nama kitab: Terjemah Kitab Fathul Qorib (Fath Al-Qarib)
Syarh dari: Kitab Matan Taqrib Abu Syujak
Judul kitab asal: Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh Al-Taqrib atau Al-Qawl Al-Mukhtar fi Syarh Ghayatil Ikhtishar (فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب أو القول المختار في شرح غاية الإختصا)
Pengarang: Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili Abu Abdillah Syamsuddin (محمد بن قاسم بن محمد الغزي ابن الغرابيلي أبو عبد الله شمس الدين)
Bidang studi: Fiqih madzhab Syafi'i

ثم ذكر المصنف أنه مسؤول في تصنيف هذا المختصر بقوله:

سألني بعض الأصدقاء) جمع صديق. وقوله: (حفظهم الله تعالى) جملة دعائية (أن أعمل مختصراً) هو ما قل لفظه وكثر معناه (في الفقه) هو لغة الفهم، واصطلاحاً العلم بالأحكام الشرعية العملية، المكتسب من أدلتها التفصيلية. (على مذهب الإمام) الأعظم المجتهد ناصر السنة والدين أبي عبد اللّه محمد بن إدريس بن العباس بن عثمان بن شافع. (الشافعي) ولد بغزة سنة خمسين ومائة ومات (رحمة الله عليه ورضوانه) يوم الجمعة سلخ رجب سنة أربع ومائتين،

ووصف المصنف مختصره بأوصاف منها أنه (في غاية الاختصار ونهاية الإيجاز) والغاية والنهاية متقاربان وكذا الاختصار والإيجاز، ومنها أنه (يقرب على المتعلم) لفروع الفقه (درسه ويسهل على المبتدىء حفظه) أي استحضاره على ظهر قلب لمن يرغب في حفظ مختصر في الفقه. (و) سألني أيضاً بعض الأصدقاء (أن أكثر فيه) أي المختصر (من التقسيمات) للأحكام الفقهية (و) من (حصر) أي ضبط (الخصال) الواجبة والمندوبة وغيرهما (فأجبته إلى) سؤاله في (ذلك طالباً للثواب) من الله تعالى جزاء على تصنيف هذا المختصر (راغباً إلى الله سبحانه وتعالى) في الإعانة من فضله على تمام هذا المختصر و(في التوفيق للصواب) وهو ضد الخطأ (إنه) تعالى (على ما يشاء) أي يريد (قدير) أي قادر (وبعباده لطيف خبير) بأحوال عباده، والأول مقتبس من قوله تعالى: {اللّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ} (سورة الشورى: الآية 19) والثاني من قوله تعالى: {وَهُوَ الحكِيمُ الخبيرُ} (سورة الأنعام: الآية 18) واللطيف والخبير اسمان من أسمائه تعالى، ومعنى الأول العالم بدقائق الأمور ومشكلاتها، ويطلق أيضاً بمعنى الرفيق بهم، فالله تعالى عالم بعباده، وبمواضع حوائجهم، رفيق بهم، ومعنى الثاني قريب من معنى الأول، ويقال خبرت الشيء أخبره فأنا به خبير، أي عليم. قال المصنف رحمه الله تعالى.


Kemudian penulis menyebutkan bahwa dia menulis ringkasan ini karena suatu permintaan, dalam perkataannya : [sebagian ‘al asdhiqo’ sahabat-sahabtku memintaku], ia jamak dari shodiiq. Dan perkataanya : [semoga Allah Ta’ala menjaga mereka], ia merupakan kalimat du’a. [supaya aku membuat suatu ringkasan], ia adalah sesuatu yang sedikit lafadznya dan banyak maknanya [dalam fiqih], ia secara bahasa bermakna pemahaman, adapun secara istilah adalah pengetahuan mengenai hukum-hukum syar’iyah ‘amaliyah yang diusahakan dari dalil-dailnya yang rinci. [Madzhab Al Imam] yang mulia, mujtahid, penolong sunnah dan agama, Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al Abbas bin Utsman bin Syafi’i. [Asy Syafi’i] dilahirkan di Gaza tahun 150 H dan wafat [semoga kepadanya tercurah rahmat dan keridlhoanNya] hari Jum’at akhir bulan Rajab tahun 204 H.

Penulis mensifati ringkasannya dengan ragam sifat, diantaranya [pada puncak ringkasan dan akhir rangkuman] dan kata-kata al ghoyah dan nihayah memiliki kedekatan makna, demikian pula al ikhtisor dan al ijaz, diantara sifatnya pula [mendekatkan pemahaman pada pelajar] kepada cabang fiqih [untuk mempelajarinya dan mempermudah para pemula untuk menghafalnya] yakni menghadirkannya dari hafalan bagi orang-orang yang berkeinginan menghafal ringkasan ilmu fiq. [Dan] sebagian sahabat meminta pula supaya aku [memperbanyak didalamnya] yakni di dalam ringkasan tersebut [pembagian-pembagian] ahkam fiqhiyyah [dan] dari [membatasi] yakni seksama [dalam menentukan] yang wajib, mandzub dan selain keduanya.



[Maka aku berkeinginan mengabulkan pada] permintaannya karena [mengharap pahala] dari Allah Ta’ala atas usaha menulis ringkasan ini. [Harapan hanya kepada Allah yang maha suci lagi maha tinggi] di dalam bantuan –dari keutamaanNya– untuk menuntaskan ringkasan ini, dan [harapan pula hanya kepada Allah, untuk mendafatkan taufiq pada kebenaran], ia merupakan lawan dari salah.

[SesungguhNya] Ta’ala [atas segala sesuatu yang dikehendakiNya yakni diinginkannya [Maha Mampu] yakni Maha Sanggup [dan Dia kepada para hambanya Maha Lembut lagi Maha Mengetahui] keadaan para hambanya. Yang pertama diambil dari firmanNya Ta’ala “Allah Maha Lembut kepada para hambanya” (QS. Asy Syuro : 19), yang kedua diambil dari firmanNya Ta’ala “Dan Dia Maha Bijaksana lgi Maha Mengetahui” (QS. Al An’am : 18), al lathif dan al Khobir merupakan dua nama diantara nama-nama Allah Ta’ala. Makna yang pertama ‘al lathif’ yang mengetahui segala sesuatu secara detil dan permasalahan-permasalahannya, ia kadang dimutlakan pula pada makna Maha lembut kepada mereka, maka Allah Maha Mengetahui tentang para hambanya dan tempat-tempat kebutuhan/kehendak/keinginan mereka lagi Maha lembut kepada mereka. Makna yang kedua memiliki kedekatan makna dengan yang pertama, dikatakan : khobartu asysyaia akhbarohu fa anaa bihi khobiirun, yakni mengetahui.

Catatan Penerjemah

[1] Syaikh merupakan masdar dari syaa-kho, dikatakan syaa-kho – yasyii-khu – syaikhon, ia secara bahasa orang yang telah melewati usia empat puluh tahun. Manusia selama berada di perut ibunya dinamakan janin, karena tersembunyi dan terhalanginya, setelah dilahirkan disebut thiflu, dzuriyyah, dan shobiy. Setelah baligh disebut syaab dan fataa. Setelah usia tigapuluh tahun disebut kahul. Setelah empat puluh tahun jika laki-laki disebut syaikh, dan bila perempuan disebut syaikhoh. Adapun secara istilah adalah orang yang telah mencapai kedudukan orang-orang yang memiliki keutamaan, walaupun masih anak-anak. (Lihat Hasyiyah Baajuuriy Qosim, Daaru Ihya al Kutub al ‘Arobiyyah, h. 3)

[2] Secara bahasa al muttaba’ (yang diikuti), adapun secara istilah orang yang sah untuk dijadikan contoh. (ibid).
[3] Maknanya yang memiliki banyak ilmu. (ibid).
[4] Beliau wafat pada tahun 918 H.
[5] Qodiy Abu Suja lahir pada tahun 434 H (1041 M), dan wafat tahun 592 H (1197 M) semoga Allah merahmati dan meninggikan derajatnya, Amin
[6] Penulis rohimahulloh memulai risalahnya dengan bismillah karena :

Mengikuti kitab Allah Ta’ala, ia merupakan ayat pertama dari surat al Fatihah, bagian dari surat an Naml dan merupakan ayat mustaqillah dari surat-surat yang lainnya; yakni sebagai pemisah diantara surat, kecuali antara surat al Anfal dan surat Al Baroah

Mengikuti sunnah Rosululloh sholAllahu ‘alaihi wa sallam, sebagimana dalam sahih al Bukhori hadits dari Abi Sufyan tentang surat baginda sholAllahu ‘alaihi wa sallam kepada pemdesar negeri Romwai, demikian pula hadits Miswar tentang perjanjian Hudaibiyah.

Kitab Cara Bersuci Dari Hadas Dan Najis

كتاب أحكام الطهارة

والكتاب لغة مصدر بمعنى الضم والجمع، واصطلاحاً اسم لجنس من الأحكام، أما الباب فاسم لنوع مما دخل تحت ذلك الجنس، والطهارة بفتح الظاء لغة النظافة، وأما شرعاً ففيها تفاسير كثيرة، منها قولهم فعل ما تستباح به الصلاة، أي من وضوء وغسل وتيمم وإزالة نجاسة، أما الطهارة بالضم فاسم لبقية الماء. ولما كان الماء آلة للطهارة، استطرد المصنف لأنواع المياه فقال:

(المياه التي يجوز) أي يصح (التطهير بها سبع مياه ماء السماء) أي النازل منها وهو المطر (وماء البحر) أي الملح (وماء النهر) أي الحلو (وماء البئر وماء العين وماء الثلج وماء البرد) ويجمع هذه السبعة قولك: ما نزل من السماء أو نبع من الأرض على أي صفة كان من أصل الخلقة


(ثم المياه) تنقسم (على أربعة أقسام) أحدها (طاهر) في نفسه (مطهر) لغيره (غير مكروه استعماله، وهو الماء المطلق) عن قيد لازم فلا يضر القيد المنفك، كماء البئر في كونه مطلقاً (و) الثاني (طاهر مطهر مكروه استعماله) في البدن لا في الثوب(وهو الماء المشمس) أي المسخن بتأثير الشمس فيه، وإنما يكره شرعاً بقطر حار في إناء منطبع، إلا إناء النقد لصفاء جوهرهما، وإذا برد زالت الكراهة، واختار النووي عدم الكراهة مطلقاً، ويكره أيضاً شديد السخونة والبرودة (و) القسم الثالث (طاهر) في نفسه (غير مطهر) لغيره (وهو الماء المستعمل) في رفع حدث أو إزالة نجس إن لم يتغير، ولم يزد وزنه بعد انفصاله عما كان بعد اعتبار ما يتشرّبه المغسول من الماء. (والمتغير) أي ومن هذا القسم الماء المتغير أحد أوصافه (بما) أي بشيء (خالطه من الطاهرات) تغيراً يمنع إطلاق اسم الماء عليه، فإنه طاهر غير طهور حسيّاً كان التغير أو تقديرياً، كأن اختلط بالماء ما يوافقه في صفاته كماء الورد المنقطع الرائحة، والماء المستعمل فإن لم يمنع إطلاق اسم الماء عليه بأن كان تغيره بالطاهر يسيراً، أو بما يوافق الماء في صفاته وقدر مخالفاً، ولم يغيره فلا يسلب طهوريته، فهو مطهر لغيره، واحترز بقوله خالطه عن الطاهر المجاور له، فإنه باق على طهوريته، ولو كان التغير كثيراً وكذا المتغير بمخالط، لا يستغني الماء عنه كطين وطحلب، وما في مقره وممره، والمتغير بطول المكث فإنه طهور. (و) القسم الرابع (ماء نجس) أي متنجس وهو قسمان أحدهما قليل (وهو الذي حلت فيه نجاسة) تغير أم لا (وهو) أي والحال أنه ماء (دون القلتين) ويستثنى من هذا القسم الميتة التي لا دم لها سائل عند قتلها، أو شق عضو منها كالذباب إن لم تطرح فيه، ولم تغيره، وكذا النجاسة التي لا يدركها الطرف، فكل منهما لا ينجس المائع ويستثنى أيضاً صور مذكورة في المبسوطات، وأشار للقسم الثاني من القسم الرابع بقوله: (أو كان) كثيراً (قلتين) فأكثر (فتغير)يسيراً أو كثيراً.

(والقلتان خمسمائة رطل بغدادي تقريباً في الأصح) فيهما والرطل البغدادي عند النووي مائة وثمانية وعشرون درهماً وأربعة أسباع درهم، وترك المصنف قسماً خامساً وهو الماء المطهر الحرام كالوضوء بماء مغصوب أو مسبل للشرب.
Kitab Hukum Bersuci

Kitab menurut bahasa berarti mengumpulkan. Sedangkan menurut istilah adalah kumpulan dari beberapa hukum.

Pengertian

Thoharoh berasal dari kata annazhofat (النظافة) yang berarti bersuci. Sedangkan menurut istilah artinya suatu perbuatan yang menjadikan sahnya shalat seperti wudhu, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis. sedangkan tuharot (الطهارة) berarti alat untuk bersuci.

Tujuh Macam Air Suci

Air yang sah di gunakan untuk toharoh ada 7:
Air langit(air yang turan dari langit/air hujan)
Air laut(air asin)
Air sungai (air tawar)
Air mata air(air yang keluar dari bumi)
Air salju/air es
Air sumur
Air embun

Ketujuh air itu di katakan air yang turun dari langit dan keluar dari bumi dari beberapa sifat asal terciptanya air tersebut.

Empat Kategori Air

Kemudian air dibagi menjadi 4 bagian:

a. Air suci mensucikan yaitu air yang belum isti’mal (belum digunakan sesuci wajib) atau air mutlaq

b. Air suci mensucikan tetapi makruh digunakan di badan tidak di pakaian yaitu air yang dipanaskan menggumakan wadah yang tidak terbuat dari emas atau perak. Tetapi apabila sudah dingin maka hilanglah sifat kemakruhanya, menurut imam Nawawi juga dimakruhkan menggunakan air yang sangat panas atau sangat dingin karna menjadikan tidak sempurnanya bersuci.


c. Air suci tapi tidak mensucikan yaitu air musta’mal .air yang sudah digunakan untuk menghilangkan najis atau untuk bersuci.walaupun tidak berubah ukuran air tersebut. Seprti air mawar yang berbau.

d. Air najis air yang sudah terkena najis. Air najis ada dua bagian : (i) Air yang terkena najis walaupun tidak berubah yaitu air yang kurang dari dua qulah; (ii) Air yang lebih dari dua qullah tetapi berubah baik banyak maupun sedikit.

Dua kolah menurut ukuran baghdat yaitu 500 kathi, sedangkan menurut imam nawawi adalah 180 dirham . menurut pengarang kitab ada air yang suci tapi haram digunakan atau diminum yaitu air yang di ghosab (air milik orang lain yang digunakan tanpa ijin).

Dua Qulah dalam Ukuran Liter

Ulama berbeda pendapat tentang ukuran 2 qulah dalam ukuran liter. Rinciannya sbb:

Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu (الفقه الإسلامي وأدلته) air dua qullah (qulah/ kulah) sama dengan 270 liter.
2 kulah sekitar 160.5 liter (Dalam kitab Al-Fiqh Al-Muyassar)
2 qulah sekitar 210 liter (kitab Tafsir Al-Ashr Al-Akhir)
2 qullah sekitar 203,125 liter.
2 qulah sama dengan 217,11 (Najmuddin Al-Kurdi.
2 qulah sama dengan 160,5 liter (Abdullah Al Faqih dalam islamweb.net)